Politisi Belanda Melarang Membangun Masjid

Written By radjie ahmad on Minggu, 08 Juli 2012 | 23.13

Politisi Belanda Geert Wilders Melarang Pembangunan Masjid

Geert Wilders politikus Belanda, pemimpin partai sayap kanan, Partai Kebebasan, yang sangat terkenal di seluruh daratan Eropa, dan mendapatkan dukungan kalangan sayap kanan Eropa, yang mengkampanyekan anti Islam. Weelder, ketika berbicara dalam sebuah pertemuan di Denver, Kanada, menyerukan agar seluruh negara di Barat, melarang pembangunan masjid baru, Sabtu.
Suara Wilders itu, seperti dinamit, yang meledak dengan keras, dan membangunkan kesadaran seluruh warga di daratan Eropa, tentang ancaman Muslim dan Islam. Wilders dengan sangat keras terus menerus melakukan kampanye di berbagai forum, yang menentang keberadaan imigran Muslim dari berbagai negara Afrika, Timur Tengah, dan Asia. Wilders, menginginkan agar setiap otoritas di negara Barat, tidak memberikan kelonggaran dan izin terhadap aktivitas kalangan Muslim, termasuk pembangunan masjid.
Wilders menjadi pembicara tamu di KTT kelompok Konservatif Barat, di mana ia memperingatkan 1.000 tokoh konservatif terhadap bahaya Islam: "Jika kita tidak berhasil menghentkan terjadinya Islamisasi, kita akan kehilangan segalanya: identitas, budaya, sistem demokrasi, kebebasan, dan peradaban kita,", ungkap The Statesman Colorado.
Wilders adalah pendiri partai sayap kanan Partai Kebebasan di Belanda yang sekarang menjadi kelompok politik terbesar ketiga di negara itu.Wilders juga menulis buku : "Warning To The Death: Perang Islam melawan Barat dan Kita". Wilders, sekarang kemanapun mendapatkan pengawalan yang sangat ketat, sejak kalangan Islamis mengancam akan membunuhnya, karena penghinaan terhadap ajaran Islam.
Seruan Wilders  melarang  pembangunan masjid baru di seluruh Barat mendapatkan dukungan, diantaranya  Senator Kevin Grantham yang mengatakan, masyarakat Barat dan pemerintahannya  layak mempertimbangkan peringatan politisi Belanda itu", ujarnya.
"Anda tahu, kami harus mendengar lebih banyak tentang itu, karena, seperti kata dia, masjid tidak seperti gereja-gereja. Muslim memikirkan masjid lebih sebagai pijakan ke dalam masyarakat, sebagai pijakan ke masyarakat, lebih dalam budaya dan dalam arti nasionalis. Gereja-gereja kita - kita tidak merasa seperti itu, mereka tempat ibadah, dan masjid tidak hanya itu, dan kita perlu memperhitungkannya ketika menyetujui pembangunan dari mereka ", tambah Kevin.
Wilders juga memperingatkan terhadap setiap pemberian kesempatan bagi hukum Syariah (hukum Islam) - dalam setiap ruang sidang Barat, dan mengatakan itu sudah "terlambat" untuk menjaga Islam keluar dari negara ini, tambahnya.
"Negara Anda sedang menghadapi jihad siluman, upaya Islam untuk memperkenalkan hukum Syariah sedikit demi sedikit terus berlangsung," katanya kepada para audien yang berjumlah  1.000 peserta.
Wilders  mendesak anggota parlemen Amerika untuk mengabaikan, "Ejekan dari media liberal ... dan akan memberikan kekuatan kepada kalangan Islam", tegasnya. Wilders menginginkan adanya tindakan tegas dengan :  "Menghentikan imigrasi dari negara-negara Islam."
The Statesman Colorado melaporkan bahwa respon terhadap Wilders, sangat beragam: "Wilders menerima sambutan tepuk tangan dengan berdiri, dan diulang-ulang selama 45-menit ceramahnya".
"Saya tidak punya masalah dengan Muslim," kata Wilders dalam sambutannya. "Ada banyak kaum Muslim moderat. Saya selalu membuat perbedaan antara orang-orang dan ideologi. Ada muslim moderat memang banyak. Tapi percayalah, tidak ada yang namanya Islam moderat - hanya ada satu Islam, dan itu adalah sebuah ideologi. Berbahaya, dan totaliter, tidak toleran, cenderunga kepada kekerasan, yang tidak boleh ditoleransi oleh masyarakat Barat ", ujarnya.
Film Wilders "Fitna" yang sangat menghina kepada Islam, dan telah menimbulkan kecaman yang sangat luas di dunia Islam, dan film itu dirilis pada tahun 2008. Film dibuka dengan Quran diikuti dengan gambar serangan 9/11 dan pemboman Madrid dan London.
Wilders ditolak masuk ke Inggris pada tahun 2009 dengan alasan keamanan publik setelah ia menggambarkan Quran sebagai kitab yang mengajar kekerasan. Begitulah kaum kafir. Wilders telah pula menerbitkan tentang "buku fasis", dan dinilai telah  "Menghasut kebencian." Wilders tak lain, cecunguk Yahudi, yang terus menggembar-gemborkan anti Islam. mi

Allahu Akbar, 3500 Tokoh Umat dari Berbagai Kalangan Bicarakan Khilafah di Sabuga ITB Bandung [+foto]



Syabab.Com - Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sukses menggelar Konfrensi Tokoh Umat se-Jawa Barat di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Bandung, tulis detikBandung. Sesuai target, acara yang digelar pada hari Ahad, 27/05/2012 tersebut dihadiri oleh 3.500 tokoh umat seluruh Jabar.
Tokoh umat yang hadir dalam acara tersebut terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh ulama, kaum intelektual, cendekiawan, pengusaha, mahasiswa hingga pelajar.

Para tokoh umat yang hadir di antaranya Pengamat Politik Unpad Dedi Mariana, Guru Besar Fikom Unpad Deddy Mulyana, Kepala Forensik RSHS dr Noorman Herryadi, Pengamat Intelijen Herman Ibrahim, Ketua PW Muhammadiyah Jabar Ayat Dimyati, Adam Anhari PW Syarikat Islam, dan Sekretaris MUI Jabar Rafani Akhyar.

“Para tamu undangan yang datang ke sini, memakai biaya sendiri. Malah mereka harus membayar Rp 100 ribu per orang. Jadi saya tegaskan, kehadiran mereka ke sini karena dukungan mereka terhadap tegaknya khilafah di Indonesia. Kami tidak membayar mereka sama sekali,” ujar Luthfi.

Konferensi yang mengangkat tema “Khilafah model terbaik negara yang menyejahterakan’ ini, menurut Luthfi untuk menegaskan kembali komitmen HTI untuk memperjuangkan pendirian sistem syariah di Indonesia.

“Acara konferensi ini tidak mengeluarkan deklarasi atau apa pun, ini hanya bentuk komitmen Hizbut Tahrir untuk pendirian khilafah di Indonesia. Kita akan terus sosialisasikan dan gelorakan hal ini. Sampai semua orang di negeri ini merindukan sistem pemerintahan khilafah. Saat itu terjadi, siapa yang bisa menghalangi,” tandasnya.

Menurutnya sistem syariah menjadi jawaban kondisi Indonesia saat ini yang terus tidak berkembang, malah cenderung memburuk. “Di dunia ini ada tiga sistem, sosialis, kapitalis, dan Islam. Sosialis sudah mati, kapitalis kini sedang sekarat. Nah apalagi? Ya Islam jawabannya,” tegasnya.

Karena itu, Luthfi yakin jika konsep khilafah ini terus digelorakan, maka akan menjadi efek bola salju. “Kita akan terus meraih dukungan dari umat dengan cara damai, untuk sama-sama menyadari jika sistem pemerintahan sekarang bobrok. Siapa pun pemimpinnya, jika sistemnya masih seperti sekarang ini, tidak akan bisa menyejahterakan umat,” pungkasnya.
Konferensi tokoh umat ini mendapat perhatian besar dari insan pers, baik sebelum acara digelar ataupunj setelahnya. Beberapa media ikut serta meliput acara ini. DetikBandung menulis beritanya dengan judul "3.500 Tokoh Umat di Jabar Bicara soal Khilafah di Sabuga". TribunJabar menulis laporannya dengan judul "Ribuan Tokoh Hadir di Sabuga" dan "HTI Coba Ubah Mindset Masyarakat". [m/detikBandung/syabab.com]
Lihat Foto:

Astaghfirullâh, Beberapa Aktivis Muslim Bangga Memakai Pakaian Sekuler!


Syabab.Com - Saya duduk sambil mendengarkan sebuah wawancara yang dilakukan BBC dengan seseorang yang saya kenal. Saya akan menyebutnya di sini dengan nama (Ahmad). Saya telah bertemunya beberapa kali dalam kesempatan yang berbeda. Ia pernah dimasukkan penjara di Tunisia sebelum melarikan diri ke London. Ia merupakan seorang aktivis terkemuka dalam gerakan Islam di Tunisia. Setelah revolusi baru-baru ini, ia kembali ke Tunisia, dan ia masih sebagai seorang aktivis terkemuka dalam gerakan tersebut. Sungguh pertemuan ini mengungkapkan visi kelompoknya tentang Tunisia, dan tentang membangun sebuah “demokrasi Islam!”
BBC menyebutnya dengan seorang Muslim moderat. Saya terus terang bahwa saya tidak senang dengan wawancara itu, karena banyak sesuatu yang kontradiksi dengan syariah. Seperti, bahwa syara’ (Islam) bukan sumber hukum; bahwa sistem yang terbaik adalah kombinasi dari demokratis Barat dan budaya warisan Islam, serta tidak melarang pemakaian bikini, bahkan ia menekankan bahwa memakai busana Muslim adalah pilihan pribadi!

Dan selama wawancara, (Ahmad) berulang kali menegaskan pembelaannya pada kebebasan berprilaku dan kebaikan demokrasi, bahkan ia menegaskan bahwa syariah bagi kami “hanyalah budaya warisan yang kami terima, sehingga kami tidak akan berusaha untuk menerapkannya di dalam negara dan pemerintahan.”

Bahkan tampak sekalai selama pembelaannya terhadap demokrasi, seolah-olah ia seorang politisi sekuler Barat yang sedang membuat garis besar visi sekulernya untuk Tunisia, sama seperti demokrasi sekuler Barat, hanya saja diwarnai dengan beberapa slogan Islam seperti “demokrasi Islam!” Sehingga orang yang mendengarnya tidak langsung terbayang dalam pikirannya bahwa ada sistem konstitusi ilahi yang telah dibuat oleh Allah SWT, yaitu sistem Khilafah.

Lalu, mengapa seorang intelektual Muslim menentang pendirian negara Islam? Apakah ia tidak tahu tentang sejarah Islam di Tunisia? Tidakkah ia percaya terhadap dukungan Allah bagi mereka yang beraktivitas untuk mengembalikan kekhalifahan Islam?

Melihat semua ini, kami menyadari bahwa ada dua hal: pertama, bahwa ia tertipu, dan yang kedua adalah kurangnya keyakinan bahwa Islam mampu mengatasi semua masalah yang ada sekarang, seperti pengangguran, serta kualitas infrastruktur yang tengah dihadapi Tunisia dan negeri-negeri Islam lainnya.

Ada banyak orang lain yang tertipu seperti dia. Mereka begitu memuliakan dan memuji sekularisme, kapitalisme dan demokrasi, melebihi orang Barat sendiri. Mereka memuliakan demokrasi dengan melupakan kekecewaan rakyat di Spanyol, Inggris dan Amerika Serikat, yang hanya memperhatikan para pemilik modal, dan partai-partai politik dengan mengorbankan rakyat biasa. Mereka juga melupakan hancurnya perekonomian yang dimulai dengan krisis ekonomi pada 2008, dan krisis euro yang terus berlanjut, serta masalah-masalah serius yang tengah dihadapi Yunani, Irlandia, Spanyol, dan melebarnya jurang antara kaya dan miskin. Kemudian, apakah kami melupakan krisis sosial yang terjadi di London, di mana ia tinggal? Konflik keluarga, penelantaran para orang tua di panti jompo, dan kurangnya nilai-nilai luhur yang menyebabkan kerusuhan di London tahun lalu? Bahkan ia berkhotbah tentang kecintaan AS dan Inggris, dengan sengaja mengabaikan kebencian mereka terhadap Islam, serta invasi yang mereka lakukan atas Irak, Afghanistan dan negeri-negeri Islam lainnya. Dan ini bukanlah kebijakan baru, sebelumnya Dana Moneter Internasional (IMF) telah memuji Ben Ali karena kebijakan ekonomi liberalismenya, promosinya terhadap nilai-nilai Barat, dan kedekatannya dengan kekuatan Barat! Lalu, sekarang di mana mereka para penguasa Tunisia itu?

Tantangan yang kami hadapi di sini adalah bagaimana berkomunikasi dengan orang-orang seperti (Ahmad) ini, dan menasihatinya akan pentingnya tawakkal (berserah diri) kepada Allah SWT, serta tidak melampiaskan kemarahan pada mereka, karena ketidaktahuan terkait hukum agama yang diwajibkan oleh Allah, dan membuat mereka percaya bahwa Islam sebagai sebuah negara dan sistem pemerintahan yang memiliki solusi atas semua masalah yang sedang mereka hadapi, di mana kami meyakinkan mereka tentang kewajibannya sebagai kaum Muslim agar beraktivitas untuk mendirikan Khilafah. Kami juga harus menciptakan opini umum yang akan mendukung penegakan sistem Khilafah, sehingga orang-orang seperti (Ahmed) tidak lagi menemukan pilihan selain menyingkir jika mereka terus menolak ide Khilafah dan mengabaikan keinginan umat [htipress/htmedia/syabab.com]
*) Taji Mustafa adalah Perwakilan Media Hizbut Tahrir di Inggris.

Entri Populer

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Maskolis | Johny Portal | Johny Magazine | Johny News | Johny Demosite
Copyright © 2011. Berita Muslim - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger