DEPOK (VoA-Islam) – Dalam Islam, tak dikenal
terminologi atau istilah radikal. Kata radikal adalah wacana Barat
sebagai bentuk stigma yang ditujukan kepada umat Islam. Karenanya, umat
Islam tidak perlu mengikuti istilah itu. Sebab, jika kita mencoba
mendefinisikan istilah radikal menurut kacamata Islam, maka akan
terkesan dipaksakan.
“Umat Islam yang punya akidah kuat itu adalah muslim yang baik. Tapi
Barat menyebutnya sebagai Islam fundamentalis. Bilang saja, saya seorang
Muslim yang mencoba untuk kaffah. Meski sebagai manusia, kita
tidak akan pernah sempurna,” kata Direktur INSIST Dr. Hamid Fahmy
Zarkasyi alias Gus Hamid menjawab pertanyaan peserta yang hadir dalam
Peluncuran buku terbarunya “MISYKAT: Islam, Westernisasi, dan
Liberalisasi” di Masjid Darussalam, Komplek Griya Tugu Asri, Depok, Ahad
(1/4) lalu.
Sementara itu dikatakan Adian Husaini, juga peneliti dari INSIST,
istilah Islam radikal dan Kristen orthodox adalah istilah dari Barat.
“Memang sering, orang bertanya, kamu ini Islam yang mana? Fundamental
atau moderat? Saya katakan, tak perlu lah kita membuat embel-embel di
belakang kata Islam. Sebut saja Islam.”
Dikatakan Adian, kalau ada orang Islam suka menyebut dirinya Islam
moderat, bisa-bisa kita direpotkan untuk mengubah plang atau papan nama
di setiap perguruan tinggi atau rumah sakit Islam. “Bisa-bisa nanti,
plang UIN (Universitas Islam Negeri) diganti menjadi Universitas Islam
Moderat Negeri (UIMN). Atau rumah sakit Islam menjadi rumah sakit Islam
moderat,” ungkap Adian guyon.
Sebagai orang tua, Adian hanya berharap anak-anaknya kelak menjadi
anak yang shaleh. Tidak mengatakan, kamu jangan radikal, jadilah Islam
moderat. “Orang yang bertanya, kamu ini Islam yang mana, adalah
pertanyaan orang-orang bingung. Orang seperti ini patut dikasihani,”
tukas Adian. Desastian
0 komentar:
Posting Komentar